Rudal Harpoon

Rudal Harpoon adalah jenis rudal pemburu kapal (anti-ship missile) yang dikembangkan oleh pabrikan pertahanan Amerika Serikat, McDonnell Douglas (sekarang merupakan bagian dari Boeing). Rudal ini memiliki jarak jangkauan yang sangat luas dan dapat digunakan baik dari darat maupun dari laut. Rudal ini dilengkapi dengan sistem navigasi GPS dan dapat dilacak dengan satelit. Rudal ini memiliki kemampuan untuk memburu target dengan presisi tinggi dan memiliki kemampuan untuk menembak dengan cepat dan akurat. Rudal Harpoon memiliki beberapa varian dan dapat digunakan untuk menyerang target darat dan laut. Rudal ini telah digunakan dalam berbagai operasi militer dan sangat diandalkan oleh pasukan militer di seluruh dunia. 


Pengembangan Blok I merupakan pengembangan peluru kendali Harpon dari awal digunakan hingga yang diluncurkan pada tahun 1999. Terdapat sembilan versi pengembangan yang diurutkan berdasarkan indeks A-H. Pengembangan ini secara garis besar bertujuan untuk menambah jangkauan, akurasi, serta hulu ledak.


Peluru kendali Harpoon dari kode pengembangan Blok II pertama kali diluncurkan pada tahun 2009. Peluru kendali ini menampung teknologi SLAM (Standoff Land Attack Missile ) yang merupakan penyempurnaan dari pengembangan Blok IE - Blok IH. Peluru kendali dengan kode pengembangan Blok II pertama ini diklaim memiliki akurasi serta pemanduan yang lebih baik dari sebelumnya dan dapat digunakan untuk lebih banyak target. Lebih lanjut, untuk versi pengembangan terbaru dari peluru kendali ini adalah Blok II+, menambah daya jelajah serta mengurangi bobot roket disertai dengan penambahan daya ledak dari hulu ledak.

  • Jangkauan serang:
    • AGM-84D (Block 1C): 220 km
    • RGM/UGM-84D (Blok 1C): 140 km
    • AGM-84E (Blok 1E): 93 km
    • AGM-84F (Blok 1D): 315 km 
    • RGM-84F (Blok 1D): 278 km
    • RGM/AGM-84L (Blok 2): 278 km
    • AGM-84H/K (Blok 1G / Block 1J): 280 km



Sumber:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Doa-doa Kristen Katolik dalam bahasa Latin

Apa yang terjadi jika Jakarta di bom dengan Tsar Bomba?

Apa yang terjadi jika Indonesia memiliki senjata Nuklir?